Selasa, 17 Januari 2017

10 Cara Sukses dalam Islam Dijamin manjur

10 Cara Sukses dalam Islam Dijamin manjur

Inilah 10 Cara Sukses dalam Islam Yang Luar Biasa


Ada 10 Cara Sukses dalam Islam, ini belum semuanya, tetapi jika dilakukan ini sudah sangat dahsyat. Sudah banyak bukti dan cerita akan keberhasilan mengamalkan cara sukses. Bahkan, meski hanya salah satu yang difokuskan, tetapi hasilnya luar biasa.
Sukses yang kita raih, insya Allah sukses dunia akhirat, selama kita ikhlas. Kuncinya jangan pernah meminta balasan atau berharap kepada selain Allah. Dan niat utama kita adalah beribadah kepada Allah dan karena Allah. Bukan karena harta atau kesuksesan duniawi saja.
Jika kita mengharapkan akhirat, insya Allah dunia akan mengikuti.

10 Cara Sukses dalam Islam

#1 Niatkan Maka Kau Akan Mendapatkan
Jangan sepelekan dengan kekuatan niat. Niat akan membawa keberhasilan. Bagaimana Anda akan mendapatkan sesuatu jika Anda tidak meniatkan diri untuk mendapatkan. Adalah betul, niat saja tidak cukup dan saya tidak mengatakan hanya niat untuk meraih sukses. Yang saya maksudkan adalah niat sebagai awal Anda dalam meraih sukses.
Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist:
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR Bukhari Muslim).
Sudahkah Anda punya niat sukses?
Akan lebih baik, jika niat Anda diperluas. Niat yang baik, positif, dan membawa kepada sukses dunia akhirat.
#2 Mendoakan Saudara
Rahasia sukses yang kedua dari 10 Cara Sukses dalam Islam Dijamin Dahsyat itu ialah: mendo’akan saudara kita kebaikan yang sama dengan yang kita inginkan tanpa sepengetahuan orang tersebut. Jika kita mendo’a saudara kita, tanpa sepengathuan kita, insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita do’akan.

Dari Abu Darda ra bahwasannya ia mendengar Rosululloh SAW bersabda: “Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya, kecuali malaikat berkata: Dan untuk kamu pula seperti itu”. (HR. Muslim)
Perhatikan poin “tanpa sepengetahuan saudaranya”. Ini akan menjaga keikhlasan kita. Tidak perlu mengatakan kepada seseorang bahwa kita sudah dan biasa mendoakannya. Biarkan dia tidak mengetahuinya karena kita hanya berharap do’a dari para malaikat dan dikabulkan oleh Allah.
#3 Miliki Ilmunya
Entah kenapa, ada saja orang yang mengkampanyekan kita supaya bodoh. Padahal menuntut ilmu ada kewajiban kita sebagai umat Islam. Yang salah adalah menuntut ilmu saja tanpa diamalkan. Menjadi bodoh karena malas menuntut ilmu juga salah. Bertindak tanpa ilmu seperti berjalan di kegelapan.
Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)
“Barangsiapa menginginkan sukses dunia hendaklah diraihnya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki sukses akherat hendaklah diraihnya dengan ilmu, barangsiapa ingin sukses dunia akherat hendaklah diraih dengan ilmu” ~Iman Syafi’i
Anda mau sukses apa? Belajarlah cara meraihnya. Banyak orang tidak bisa meraih sukses tertentu karena dia tidak mengetahui ilmunya.
#4 Berubahlah
Allah yang menentukan, namun perintah Allah juga agar kita mau mengubah diri sendiri. Maka, jika Anda ingin meraih apa yang Anda inginkan atau mengubah kondisi Anda, maka berubahlah.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya ” (QS Ar-Ra’d:11)
Sungguh aneh, banyak orang yang mengeluh dengan kondisinya, menginginkan sesuatu belum tercapai, dan tidak ada peningkatan dalam hidupnya. Tapi dia tidak berubah.
Berubahlah menjadi lebih baik, mulai dari pola pikir, kemampuan, target-target, dan juga ilmu.
#5 Silaturahim
Silaturhim atau silaturahmi adalah kunci sukses berikutnya. Jangan karena sudah terhubung melalui facebook, kemudian kita tidak pernah bertemu secara langsung. Luangkan waktu untuk bertemu orang. Baik orang yang sudah kita kenal maupun orang baru.
Silaturahmi itu untuk menjaga kedekatan dengan yang sudah kita kenal juga untuk menambah teman atau saudara baru.
Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR Muslim)
Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)
Programkan silaturahmi setiap hari menemui 1-2 orang atau lebih dan lihat perubahan yang terjadi.
#6 Berdo’a
Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Ku. Maka bermohonlah kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Q.S Al-Baqarah :186).
Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)
# 7 Tawakal
Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
#8 Shadaqah
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)
# 9 Syukur
Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS Ibrahim: 7)
# 10 Bertaqwa
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq:2-3)

Penutup

10 Cara Sukses dalam Islam ini hanya sebagian dari cara sukses yang ada di dalam Al Quran dan hadits. Jika diteliti lagi, akan sangat banyak yang menjadikan kita menjadi manusia sukses. Sukses seutuhnya, bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga di akhirat.
Mau menambahkan? Silahkan di form komentar, dengan senang hati 🙂
Tulisan 10 Cara Sukses dalam Islam hanyalah sebagai triger, agar kita lebih termotivasi lagi untuk meraih sukses dengan cara islami.

Minggu, 15 Januari 2017

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia



Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Negara Indonesia mengikhtisarkan asal kedatangan Islam menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang india muslim pada sekitar abad ke-13 M. kedua, teori makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari timur tengah melalui jasa para pedagang arab muslim sekitar abad ke-7 M.ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.melalui kesultanan tidore yang juga menguasai tanah papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai semenanjung onin di kabupaten fakfak, papua barat, Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa arab yang telah bermukim di pantai barat Sumatra.
Islam telah dikenal di Indonesia pada abad pertama hijriah atau 7 masehi, meskipun dalamfrekuensi tidak terlalu besar hanya melalui perdagangan dengan para pedagang muslim yang berlayar ke Indonesia untuk singgah untuk beberapa waktu.  Islam masuk ke indonesia melalui beberapa saluran antara lain sebagai berikut:

  • Saluran Perdagangan

Pada taraf permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M membuat pedagangan-pedangan muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.

  • Saluran Perkawinan

Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumu terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saodagar-saodagar itu. Sebelum kawin, mereka di Islamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung, daerah-daerah, dan kerajaan-kerajaan muslim. Dalam perkembangan berikutnya, adapula wanita muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir ini masuk Islam terlebih dahulu.

  • Saluran Tasawuf

Pengajar-pengajar Tasawuf atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah di kenal luas oleh masyarakat Indonesia. Diantara ahli-ahli Tasawuf yang memberikan ajaran mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuruh di Aceh, Syaik Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.

  • Saluran Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang di selenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing kemudian berdakwa ke tempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri.

  • Saluran Kesenian

Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih di petik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi didalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan adalah Islamisasi, seperti sastra (hikayat, badad, dan sebagainya), seni bangunan, dan seni ukir.

  • Saluran Politik

Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan.
Pengetahuan mereka akan kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan masyarakat Indonesia, pada saatnya mendorong lahirnya organisasi sosial, seperti Budi Utomo, Taman Siswa, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Selebes, dan lain sebagainya.

Perjuangan Kemerdekaan Umat Islam

  • Masa Kolonial Belanda

Nasionalisme dalam pengertian politik, baru muncul setelah H. Samanhudi menyerahkan tampuk pimpinan SDI pada bulam Mei 1912 kepada HOS Tjakroaminoto yang mengubah nama dan sifat organisasi serta memperluas ruang geraknya. Sebagai organisasi politik pelopor nasinalisme Indonesia, SI pada dekade pertama adalah organisasi politik besar yang merekrut anggotanya dari berbagai kelas dan aliran yang ada di Indonesia. Waktu itu, ideologi bangsa memang belum beragam, semua bertekat ingin mencapai kemerdekaan. Tjokroaminoto dalam pidatonya pada Kongres Nasional Sarekat Islam yang berjudul “Zulfbetuur” tahun 1916 di Bandung mengatakan:
Tidak pantas lagi Hindia di perintah oleh negeri Belanda, bagaikan tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya, menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya. Tidaklah pantas, untuk menganggap negeri ini sebagai tempat kemana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa penduduknya, terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut bicara dalam soal-soal pemerintahan yang mengatur nasib mereka.
Demikianlah SI memperjuangkan pemerintahan sendiri bagi penduduk Indonesia, bebas dari pemerintahan Belanda. Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, dikalangan tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi pergerakan, mulai terjadi perbedaan-perbedaan taktik dan program; golongan revolusioner berhadapan dengan golongan moderat; dan politik koperasi tidak sejalan dengan politik non-koperasi dan dilakukan oleh golongan tertentu. Puncak perbedaan itu terjadi didalam tubuh SI sendiri, yang memunculkan kekuatan baru dengan ideologinya sendiri, komonisme.
Banyak kalangan pergerakan yang kecewa terhadap perpecahan itu. Mereka kecewa lagi, karena perpecahan itu bukan saja menunjukkan perbedaan taktik, tapi lebih itu, masing-masing golongan semakin mempertegas ideologinya. Sejak itu, SI dengan tegasnya menyatakan ideologi Islamnya. Nasionalisme yang dikembangkannya adalah nasionalisme yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam.
Usaha-usaha untuk mempersatukan kembali partai-partai politik dengan aliran-aliran ideologi itu, meskipun dalam benuk federasi, selalu berakhir dengan kegagalan. Sementara itu, konflik ideologi terus berkembang dan kadang-kadang mengeras. Ada pula yang mempertanyakaan lembaga-lembaga Islam, seperti poligami, dan ibadah haji. Tuduhan lain, Islam Arab merupakan suatu bentuk imperialisme yang tidak kalah jeleknya dari Belanda.
Di awal tahun 1940an, Soekarno yang pernah mendalami ajaran Islam, mencoba mendamaikan konflik-konflik itu dengan berusaha mengutip pendapat pemikir-pemikir pembaharu di negara-negara Islam timur tengah, termasuk Turki. Namun, konsep politik Islamnya lebih banyak merupakan penerapan sekularisme, sebagaimana yang di praktekkan oleh Kemal Attaturk di Turki. 

  • Masa Pendudukan Jepang

Kemunduran progresif yang dialami oleh partai-partai Islam seakan mendapatkan dayanya kembali setelah Jepang datang menggantikan posisi Belanda. Jepang berusaha mengakomodasi dua kekuatan. Jepang kemudian menjanjikan kemenrdekaan Indonesia dengan mengeluarkan maklumat Gunseikan No. 23/29 April 1945, tentang pembentukan badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Berbeda dengan situasi sebelumnya, yang kalangan Islam mendapat pelayanan lebih besar dari Jepang, keanggotaan BPUPKI di dominasi oleh golongan nasionalis “Sekular”, yang ketika itu lazim disebut golongan kebangsaan. Didalam badan inilah, Sukarno mencetuskan ide pancasilanya. Setelah itu, dialog resmi ideologis antara dua golongan terjadi dengan terbuka dalam suatu forum. Panitia sembilan, semacam sebuah komisi dari forum itu, membahas hal-hal yang sangat mendasar, preambul UUD. Lima orang mewakili golongan nasionalis “Sekular” (Sukarno, Muh.Hatta, Muh. Yamin, Maramis dan Subardjo) dan empat orang lainnya mewakili Islam (Abdul Kahar Muzakkir, Wachid Hasyim, Agus Salim dan Abikusno Tjokrosujoso). Kompromi yang dihasilkan panitia ini kelak dikenal sebagai piagam Jakarta. Pada prinsip ketuhanan terdapat anak kalimat dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Wujud Akulturasi Kebudayaan Islam di Indonesia
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang di pengaruhi oleh agama hindu dan budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi  yang meluruskan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan hindu dan budha hilang.bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi. Sedikit memberikan uraian berikut ini yaitu:

  • Seni Bangunan, wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat dilihat dari bangunan masjid, makam, istana.
  • Seni Rupa, tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia/ hewan. Seni ukui relief yang menghias masjid, makam Islam berupasaluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula sinkretisme, agar dapat keserasian. 
  • Aksara dan Seni Sastra, tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan arab melayu atau biasa dikenal dengan istilah arab gundul. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan atauaksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf arab melayu (arab gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.


    Sumber :
    Abuddin, NataMetodologi Studi IslamEd. 1 Cet. 2 ; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada2003 
    Lapidus, Ira
    Sejarah Sosial Ummat IslamEd. 1 Cet. 1 ; Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada1997
    Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam SejarahEd. 1 Cet. 1 ; Jakarta : Paramadina, 1995
    Yatim, BadriSejarah Peradaban Islam, Ed. 1 Cet. 1 ; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada1993

Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek

Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek

Islam Hanya Mengenal Dua Hari Raya Besar
Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Termasuk dalam hal ini perayaan yang diadakan oleh sebagian muslim berdarah Tionghoa yaitu perayaan Imlek. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.
Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ
Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).
Itu Bukan Perayaan Umat Islam
Apalagi jika ditelusuri, perayaan Imlek ini bukanlah perayaan kaum muslimin. Sehingga sudah barang tentu, umat Islam tidak perlu merayakan dan memeriahkannya. Tidak perlu juga memeriahkannya dengan pesta kembang api maupun bagi-bagi ampau, begitu pula tidak boleh mengucapkan selamat tahun baru Imlek.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031 dan Ahmad 2: 92. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Tidak boleh pula seorang muslim bersikap boros pada perayaan non-muslim dengan memeriahkannya melalui pesta kembang api. Allah Ta’ala berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)
Memberi ucapan selamat tahun baru Imlek, ada yang mengucapkan do’a ‘gong he xin xi’ (hormat bahagia menyambut tahun baru) atau ‘gong xi fa cai’ (hormat bahagia berlimpah rejeki) pun terlarang. Hal ini disebabkan karena telah ada klaim ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa mengucapkan selamat atau mendoakan untuk perayaan non-muslim itu haram. Ijma’ adalah satu dalil yang menjadi pegangan. Nukilan ijma’ tersebut dikatakan oleh Ibnul Qayyim, di mana beliau rahimahullah berkata,
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه
“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan selamat tahun baru imlek, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441).
Kalau dikatakan para ulama sepakat, maka itu berarti ijma’. Dan umat tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan, sehingga menyelisihi ijma’ itulah yang terkena klaim sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) ulama kaum muslimin.
Bersikap toleran bukan berarti membolehkan segala hal yang dapat meruntuhkan akidah seorang muslim. Namun toleran yang benar adalah membiarkan mereka merayakan tanpa perlu loyal (wala’) pada perayaan mereka.
Hanya Allah yang memberi taufik.

Pergi Ke Orang Pintar Bukan Sebuah Solusi






Pergi Ke Orang Pintar Bukan Sebuah Solusi


Assalamu'alaikum wr rb.
Ustadz Muhammad Amruddin
Alloh Ta’ala menguji manusia agar diketahui siapakah yang beriman dan siapakah yang ingkar. Diantara bentuk ujian yang Alloh Ta’ala berikan adalah berbentuk kekayaan, kemiskinan, sakit, tekanan hati, kehilangan harga benda, kehilangan anak dan lain sebagainya. Banyak kalangan yang salah dan tersesat  dalam menyelesaikan masalah. Mereka mengambil jalan pintas untuk menuntaskan permasalahan yang sedang dihadapi. Apakah itu berbentuk penyakit, problem rumah tangga, karir, jodoh, persaingan bisnis dan lain sebagainya. Sebagian orang menganggap pergi ke “orang pintar” adalah solusi.
SIAPAKAH “ORANG PINTAR” ITU ?
Sebutan “orang pintar” sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia. Kata tersebut sangat mengesankan dan memikat. Akan tetapi sungguh disayangkan yang dimaksud sebagai orang pintar disini bukanlah ulama ataupun fuqoha (ahli fiqih). Bila dicermati dengan seksama, maka dapat dikatakan bahwa mereka adalah dukun, tukang sihir atau peramal. Sebab realita yang ada pada praktek yang mereka jalankan adalah semata-mata hanya perdukunan, sihir atau ramalan.
Seseorang jika menghadapi suatu masalah dan sudah menempuh berbagai jalan akan tetapi hanya kata “buntu” yang didapat, maka seringkali ia memperoleh banyak saran dari berbagai kalangan untuk pergi ke orang pintar.
Syaikh Abdurrohman Hasan Alu Syaikh berkata : “Dukun adalah orang yang mengambil informasi dari setan yang mencuri pendengaran dari langit. Jumlah mereka dahulu sebelum masa kenabian sangat banyak, akan tetapi setelah masa kenabian jumlah mereka sedikit karena Alloh Ta’ala menjaga langit dengan adanya bintang-bintang pelempar setan. Kebanyakan perkara yang terjadi pada umat ini adalah berita yang disampaikan oleh jin kepada para wali-walinya dari kalangan manusia tentang perkara ghoib sesuai dengan apa yang terjadi di bumi, sehingga orang bodoh mengira bahwa itu merupakan kasyf (kemampuan melihat perkara ghoib) dan karomah. Banyak orang yang tertipu dalam masalah ini, mereka menganggap bahwa orang yang menyampaikan berita dari jin itu adalah wali Alloh.[1]
Lalu bagaimana halnya dengan orang yang mendatangi kyai yang membuka praktek perdukunan ? bukankah yang disebut kyai adalah ulama yang taat dalam beragama ?
Ini adalah salah satu cara syetan untuk menggelincirkan anak cucu Adam agar tersesat jalan. Mereka mengganti istilah dukun dengan berbagai penamaan agar bisa diterima oleh semua kalangan, seperti kyai, orang pintar, paranormal, orang tua, ahli spiritual, tabib atau nama lain yang mengesankan. Karena jika dikatakan dukun atau peramal atau tukang sihir orang pasti akan lari darinya.
Banyak sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib dan mengobati orang sakit dengan menggunakan sihir atau perdukunan. Mereka ini banyak menyebar di berbagai negeri. Orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak menjadi korban penyesatan mereka.
MENDATANGI “ORANG PINTAR
Hukum pergi ke “orang pintar” sebagaimana yang dimaksud diatas adalah haram. Lebih haram lagi jika bertanya kepadanya dan mempercayai ucapannya. Banyak dalil yang menjelaskan akan hal ini, diantaranya adalah sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barang siapa yang mendatangi peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh hari”. (HR. Muslim : 4137)
“Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun dan mempercayai ucapannya, maka dia telah ingkar terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”[2]
“Barang siapa yang mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya, maka ia telah ingkar terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]
Hadist diatas menunjukkan bahwa mendatangi dukun dan sejenisnya jelas haram hukumnya. Syaikh Abdurrohman bin Hasan berkata : “Dalam hadist tersebut terdapat larangan untuk mendatangi dukun dan sejenisnya.”[4]
Setelah menyebutkan hadist-hadist diatas, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata dalam risalahnya : “hadist-hadist mulia ini menunjukkan larangan mendatangi tukang ramal, dukun dan sejenisnya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghoib, larangan mempercayai dan membenarkan apa yang mereka katakan dan ancaman bagi mereka yang melakukannya”.
Lebih lanjut beliau menyatakan : “hadist-hadist Rosululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut diatas membuktikan tentang kufurnya para dukun dan tukang ramal karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghoib dan mereka tidak akan sampai pada tujuan yang diinginkan melainkan harus dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin. Dan ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Alloh Ta’ala.
Orang-orang yang membenarkan pengakuan mereka dalam mengetahui hal-hal yang ghoib dan meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari mereka.[5]
DUKUN, PERAMAL DAN PENYIHIR ADALAH MUSYRIK
Perbuatan syirik adalah menyekutukan Alloh Ta’aladalam segala bentuk ibadah dan perkara-perkara yang merupakan kekhususan Alloh Ta’ala. Pengakuan mereka mengetahui perkara yang ghoib tidak lain hanya sekedar terkaan atau berita yang diperoleh dari jin semata. Semakin besar ketaatan mereka kepada jin atau setan maka semakin besar pula bantuan setan kepada mereka. Berbagai bentuk kekufuran yang mereka lakukan sendiri ; menyembelih binatang tertentu dan ditempat tertentu dengan menyebut nama setan mereka, menginjak-injak Al-Qur’an, mengencinginya atau meletakannya ditempat pembuangan kotoran dan yang sejenisnya adalah semata-mata agar setan ridho kepada mereka dan mau membantu urusan mereka. Maka dapat dipastikan perbuatan seperti ini adalah perbuatan kekufuran.
Telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata : “Beberapa orang bertanya kepada rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dukun, maka rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka (para dukun) bukan apa-apa (tidak mengetahui apa-apa)”. Mereka berkata “Wahai Rosululloh, terkadang sesuatu yang mereka katakan itu benar terjadi ?”. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Perkataan yang benar itu adalah bisikan jin yang disampaikan ke telinga walinya (dukun) seperti suara ayam betina, lalu mereka campur dengan lebih dari seratus kedustaan”. (HR. Bukhori : 5745).
Dalam riwayat lain Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila Alloh memutuskan suatu perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayapnya karena tunduk atas firman-Nya seolah (suaranya) seperti rantai diatas batu. Dan tatkala dihilangkan rasa takut dari hati mereka, maka mereka berkata : “Apa yang telah difirmankan Robb kalian ?” Mereka berkata kepada yang bertanya : “Kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Maka para pencuri pendengaran mendengarnya. Demikianlah sebagian mereka diatas sebagian yang lain – Sufyan bin ‘Uyainah memperagakan dengan tangannya dan merenggangkan jemarinya-. “Pencuri itu mendengar perkataan (Malaikat) lalu dibisikkan kepada yang ada dibawahnya. Kemudian yang lainnya menyambung membisikan kepada yang ada dibawahnya, hingga (yang terakhir) menyampaikannya melalui lisan penyihir atau dukun. Dan bisa jadi bintang menyambar setan itu sebelum ia menyampaikannya, dan bisa jadi ia telah menyampaikannya sebelum tersambar bintang, akan tetapi dicampur dengan seratus kedustaan, kemudian dikatakan :”Bukankah dia telah berkata kepada kita pada hari ini dan ini demikian dan demikian. Maka ia dibenarkan karena perkataan yang didengar dari langit.” (HR. Bukhori : 4426).
PERKARA GHOIB HANYA ALLOH YANG MENGETAHUI
Sungguh kedustaan para dukun dan yang semisalnya sangat nyata, karena sesungguhnya perkara ghoib hanya Alloh Ta’ala yang yang mengetahuinya.
Alloh Ta’ala berfirman yang artinya :
Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman : 34).
Dalam ayat lain Alloh Ta’ala berfirman yang artinya :
“Dan disisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An am : 59).
Dalam ayat lain Alloh Ta’ala berfirman yang artinya :
“(Dia adalah Tuhan) yang Mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghoib itu kecuali kepada rosul yang diridhoi-Nya.” (QS. Al-Jin : 26 – 27).
Tidak selayaknya seorang muslim yang mengaku beriman kepada Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya mendatangi mereka untuk menanyakan jalan keluar dari masalah yang dihadapi karena barang siapa yang mengikuti mereka, maka hukumnya sama seperti mereka. Mempercayai cerita-cerita bohong mereka atau menyakini benda-benda pemberian mereka seperti : azimat-azimat, sabuk, rajah yang tidak dapat dipahami maknanya, tulisan-tulisan untuk ditempel ditempat-tempat tertentu, atau barang-barang yang harus ditanam disuatu tempat dan lain sebagainya. Itu semua adalah praktek-praktek perdukunan yang penuh kesyirikan.
Maka hendaknya masing-masing kita senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala dengan taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertakwa kepada-Nya dengan sebenarnya serta senantiasa memohon ampun dan perlindungan kepada-Nya dari syirik dan pelakunya. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Syirik pada kalian lebih halus daripada langkah semut, akan aku tunjukkan kepadamu sesuatu jika engkau kerjakan dapat menghilangkan syirik darimu baik yang kecil ataupun yang besar. Ucapkan: “Ya Alloh, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.”[6]
Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk kepada kita untuk dapat beramal sesuai dengan yang Dia cintai dan ridhoi dan menghindarkan kita dari perbuatan syirik yang merupakan kezholiman paling besar. Wallohu a’lam

Catatan Kaki:

[1] Fathul Majid, Syarhu Kitabit Tauhid, Abdurrohman Hasa Alu Syaikh. Masyru Maktabati Tholibil Ilmi, Jam’iyyatu Ihya’it Turots Al Islamy, Kuwait, Cetakan ke-5 Tahun : 1421 H / 2001 M, Bab : Dukun dan Sejenisnya, Hal. 329
[2] HR. Abu Daud, Rimidzi, Nasa’I, Ibnu majah, Hakim. Dan dinyatakan shohih oleh Imam Hakim bahwa hadist tersebut sesuai dengan kriteria Bukhori dan Muslim akan tetapi mereka tidak mengeluarkannya. Lihat kitab Syaikh Albani rahimahullah dengan judul: Shohihut Targhib wat Tarhib : 3047
[3] HR. Bazzar, dinyatakan shohih oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Shohihut Targhib wat Tarhib : 3044
[4] Fahtul Majid, Syarh Kitabit Tauhid, Abdurrohman Hasan Alu Syaikh. Bab : Majaa fil kuhhan wa nahwihim, Hal : 330
[5] Risalatun fi Hukmis Sihri wal Kahanah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Cetakan Indonesia : Risalah Tentang Hukum Sihir dan Perdukunan, Cetakan Departemen Urusan Ke-Islaman, wakaf, dakwah dan bimbingan Islam – KSA, Tahun : 1419 H, Hal : 7 – 8
[6] HR. Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod : 738.

Terima kasih sudah berkunjung, assalamualaikum sobat!!!